Apa Itu Bounce Rate? Begini Cara Mudah Menurunkannya

Bounce rate, Bounce Rate adalah, cara mengecek Bounce Rate, cara menurunkan Bounce Rate

Tahukah kamu apa itu bounce rate dan mengapa bisa mempengaruhi penilaian Google terhadap performa website?

Udemy

Udemy menyediakan pilihan kursus SEO paling lengkap di semua bidang, dari SEO On-Page, Off-Page, Technical, Mobile SEO, dan masih banyak lagi.

Blogger mana yang tak mau mendapatkan trafik yang tinggi ke blog atau websitenya.

Hanya saja, ketika pengunjung datang ke website, tak sedikit yang kadang hanya membuka halaman web tanpa melakukan aktivitas apapun dan langsung pergi begitu saja.

Kondisi inilah yang disebut dengan bounce rate, dimana semakin tinggi nilainya maka penilaian website oleh Google juga semakin buruk.

Jika demikian, bagaimana cara mengecek Bounce Rate dari website untuk tahu skornya masih aman atau sudah mengkhawatirkan?

Dari pada penasaran, yuk simak apa itu bounce rate dan cara menurunkannya agar tetap berada di angka yang aman.

Mengenal Bounce Rate

Apa Itu Bounce Rate?

Sebelum lebih jauh belajar tentang apa itu bounce rate dalam SEO, ada baiknya untuk memahami apa yang dimaksud dengan bounce rate itu sendiri.

Dilansir dari situs Ahrefs, bounce rate adalah persentase pengunjung yang datang ke situs web, namun tidak melakukan tindakan apapun sama sekali.

Entah itu, meninggalkan komentar, mengklik internal link, memutar video, menambahkan item produk ke keranjang belanja dan lain sebagainya.

Bagaimana cara kerja bounce rate?

Penilaian bounce rate adalah dari angka 1-100. Semakin tinggi skornya, semakin buruk kualitas website.

Sebaliknya, skor yang makin kecil, makin baik pula kualitas website.

Cara menghitungnya yakni dengan membagi semua kunjungan halaman tunggal (single page visitor) dengan trafik masuk lalu dikali 100%.

Misalnya saja, website kamu mendapatkan 2000 trafik dan 500 diantaranya merupakan single page visit, maka skornya adalah 25%.

Tingginya angka persentase tersebut mengindikasikan bahwa ada beberapa aspek SEO yang gagal. 

Apa saja yang mempengaruhi nilainya?

Ada banyak alasan mengapa skor bounce rate bisa mengalami peningkatan, dan tentu hal ini kurang baik bagi perkembangan website. Berikut ini beberapa hal yang cukup mempengaruhi,

  • Kualitas konten yang buruk atau kurang memenuhi standar, membuat pengunjung kurang tertarik untuk mengeksplorasi lebih lanjut.
  • Tidak sesuai dengan search intent atau maksud pencarian, sehingga pengunjung tidak mendapatkan apa yang diinginkan dan langsung pergi begitu saja.
  • Website lambat akan membuat pengunjung langsung kabur tanpa menunggu aba-aba.
  • Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Cara mengecek Bounce Rate

Lantas bagaimana cara mengecek Bounce Rate untuk tahu apakah nilainya masih aman atau perlu diturunkan? 

Tenang, cara mengecek Bounce Rate sebetulnya sangat mudah dan kamu tak perlu mengeceknya secara manual. 

Karena ada SEO tools seperti Google Analytics yang bisa digunakan untuk mengetahui skor bounce rate dari blog atau website milikmu. 

Jika website belum dilengkapi dengan Google Analytics, kamu bisa memasangnya segera agar bisa memantaunya secara real-time.

Nah, berikut ini cara mengecek Bounce Rate dengan Google Analytics yang sudah terpasang di website, antara lain.

  • Masuk ke Google Analytics,
  • Tap opsi Behavior – Overview, lalu kamu akan mendapatkan ringkasan nilai Bounce Rate secara keseluruhan.
  • Tap menu Full Report, jika kamu ingin mendapatkan laporan nilai bounce rate untuk masing-masing halaman web.

Setelah tahu cara mengecek Bounce Rate, dan ternyata nilainya cukup tinggi. Maka, jangan lupa untuk belajar cara menurunkan bounce rate website.

Simak ulasan selanjutnya untuk tahu langkah apa saja yang harus dilakukan.

Cara Menurunkan Bounce Rate yang perlu Dipahami

Bounce rate adalah nilai yang dipengaruhi dari banyak aspek dalam website. Sebab itulah, strategi yang diterapkan untuk menjaga nilainya tetap rendah juga sangat bermacam-macam.

Dikutip dari situs Hubspot, rata-rata nilai Bounce Rate sebuah website ada di angka 26%-70%, dengan angka optimal berada di kisaran 25%-40%.

Jadi skornya masih dianggap aman jika kurang dari angka 70%. Tapi jika nilainya bisa lebih kecil lagi dari itu atau minimal 30-40%, tentu jadi prestasi yang luar biasa bukan?  

Nah, berikut ini beberapa cara menurunkan bounce rate di website yang bisa jadi pertimbangan untuk diterapkan.

1. Pastikan website mobile friendly

Saat ini, pengguna perangkat mobile telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hampir semua bisa dilakukan dengan perangkat tersebut, salah satunya browsing di internet.

Bahkan menurut survei yang dilakukan Google, sekitar 94 % pengguna internet di Indonesia lebih suka menggunakan perangkat mobile untuk akses internet.

Dengan kata lain, jika kamu ingin tahu cara menurunkan bounce rate maka pastikan website atau blog milikmu tersedia dalam versi mobile.

Tampilan website yang ramah dengan perangkat mobile akan membuat pengguna lebih nyaman dan betah, sehingga rasio persentasenya bisa ditekan seminimal mungkin.

2. Tingkatkan kecepatan loading situs web

Tingginya rasio bounce dari sebuah website juga bisa dipengaruhi oleh loading situs web yang lambat.

Karena website yang loadingnya lambat membuat pengunjung merasa tidak nyaman, frustasi, kesal hingga marah.

Hingga akhirnya mereka memilih pergi dan mencari website lainnya yang mampu menyajikan informasi yang jauh lebih cepat.

Tak peduli sebagus dan se-relevan apapun konten yang disajikan, pengunjung sama sekali tidak mentolerir loading website yang lambat.

Bahkan, Google menyebutkan bahwa 53% pengguna internet akan meninggalkan website  yang loadingnya 3 detik lebih. 

Tak hanya itu, 79 % diantaranya juga merasa kecewa dengan lambatnya loading website dan menyatakan tidak pernah mengakses website tersebut lagi.

Dengan meningkatkan kecepatan loading halaman web, tentunya bisa jadi cara menurunkan bounce rate paling ampuh.

3. Perhatikan penggunaan judul dan kualitas konten 

Meskipun pengunjung sudah membuka halaman web karena tertarik dengan judul artikel tersebut, tapi belum tentu juga mereka akan membacanya sampai selesai. 

Penggunaan judul yang hanya memancing klik tanpa diimbangi dengan isi konten yang terstruktur dan berkualitas tentu akan membuat pengunjung kecewa.

Tak tunggu waktu lama mereka akan segera beralih ke halaman web lainnya yang memiliki konten dengan judul yang tidak menipu, struktur yang lebih rapi, dan lebih human readable.

Tentu jika dibiarkan bisa-bisa rasio bounce website kamu makin tinggi. 

Untuk itu, pastikan konten artikel yang disajikan bukan hanya SEO friendly tapi juga human readable. Baik dari segi topik dengan bahasan mendalam yang sesuai dengan search intent. 

Lalu jangan lupa penulisan judul, penggunaan heading dan subheading, sebaran keyword, hingga visualisasi konten dengan menambahkan gambar atau video. 

Hasilnya supaya pengguna mendapatkan informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkan, sehingga betah berlama-lama berinteraksi di website tersebut.

Baca juga: 10 Cara Cerdas Membuat Artikel SEO Friendly yang Human Readable

Cara menurunkan bounce rate selanjutnya adalah dengan memperbaiki broken link atau link yang rusak di dalam website.

Link tersebut bukan hanya membuat pengguna tidak nyaman dan pergi dari website tanpa melakukan aktivitas apapun.

Selain itu, broken link juga membuat website lebih sulit untuk ditelusuri oleh bot yang akan melakukan crawling dan indexing.

Jika sudah demikian, ini bisa mengirimkan sinyal pada mesin pencari bahwa performa website kurang bagus.

Untuk itu, perhatikan broken link yang ada di website milikmu dan segera perbaiki jika kamu menemukannya.

 5. Tampilan homepage kurang mengundang

Tahukah kamu, jika tampilan homepage juga bisa mempengaruhi rasio bounce, lho. Pasalnya, tampilan ini sama halnya seperti undangan untuk calon pengunjung.

Ketika tampilannya biasa-biasa saja dan cenderung membosankan, maka siapa yang tertarik untuk menjelajahi isi lain di dalamnya?

Agar tampilan homepage jadi lebih menarik, maka kamu perlu membuat struktur website yang baik. Seperti melakukan beberapa hal berikut,

  • Mulai membuat planning tampilan homepage,
  • Menautkan beberapa halaman utama di homepage,
  • Menyusun menu dan breadcrumbs agar navigasi website lebih tertata rapi dan mudah ditemukan,
  • Gunakan sistem taxonomies untuk mengelompokkan konten sesuai kategorinya.
  • Tambahkan internal link dengan bijak.

Dengan begitu, tampilan homepage akan jadi lebih rapi dan struktur website pun lebih ramah bagi pengunjung.

6. Bijak menggunakan popup

Penggunaan popup di website memang menuai banyak perdebatan. Dimana penggunaan popup dapat membantu mendapatkan leads dari newsletter atau subscriber blog.

Sementara, di sisi yang lain kebanyakan pengguna tidak menyukai adanya popup di website. Namun, kamu tetap bisa menggunakannya asalkan bisa lebih bijak.

Jangan sampai, pengunjung yang datang ingin membaca konten dari website justru terganggu dengan popup yang terus menerus muncul hampir tiap menit.

Jika kamu memaksa, ini hanya akan mendorong mereka menutup halaman web lebih cepat dari yang seharusnya.  

Sebuah riset menunjukkan, 70 % pengunjung website menyebutkan bahwa popup yang tidak relevan dan terlalu berlebihan sangatlah menjengkelkan. 

Jadi pastikan agar popup di website milikmu muncul sewajarnya saja agar pengunjung tetap merasa nyaman dan tidak merasa kesal.

Stabilkan Bounce Rate agar Peringkat di SERP Mudah Didapat

Dengan nilai bounce rate yang cenderung stabil antara 20-40%, ini artinya website memiliki performa yang sangat baik. 

Jika nilainya mengalami peningkatan, jangan buru-buru panik. Tapi, lakukan evaluasi secara menyeluruh untuk mencari tahu apa yang jadi penyebabnya.

Apakah dari segi kualitas konten, loading website atau tampilannya yang kurang friendly untuk pengguna mobile.

Jika sudah ditemukan apa masalahnya, baru lakukan tindakan yang tepat untuk mengatasinya agar peringkat teratas di mesin pencari bisa diraih. 

Tetap semangat untuk belajar dan terus melakukan perubahan kearah yang lebih baik, ya.

CategoriesSEO